Beribu-ribu malam Sang Putri duduk termenung
Senyum terlukis di wajahnya
Semua asa melayang ke Sang Nakhoda
Sambil bertanya dan menunggu kepulangannnya
Lalu terucaplah kepadaNya
O, Tuan, kapankah Sang Nakhoda akan berlabuh?
Dan ketika jawaban yang ditunggu tak kunjung terdengar
Direlakannya kepergian Sang Nakhoda dan kapalnya
Terpikirlah kapal itu tlah berlabuh di tempat tertuju
Dan dihantarkanlah kepada Tuannya
Sebuah rangkaian kata-kata penuh makna
Inilah doa tertulus untuk Sang Nakhoda
Menerima dan merelakan tak mudah.
Tetapi di dalam semua kesedihan dan harapan yang lalu,
ditemukannya sebuah anugerah dan bersyukurlah Ia.
Dan akhirnya Ia menerima dan merelakan.
Monday, January 28, 2008
Tuesday, January 22, 2008
Ah....
Beribu suara menemani sekitar
Ah...bukan itu yang kumau
Belaian angin semilir dan pilu
Ah...bukan juga itu yang kumau
Gelimangan kerlip indah menyilaukan
Ah...bukan itu lagi-lagi yang kumau
Sapuan angin pengisi gundah
Ah...inikah dia yang kucari?
Pencurah dahaga mendentang puncak genting
Ah...masakan ini yang kucari?
Terkenang polos hangat tawa puluhan ribu hari yang lalu
Ah...mungkin.. memang ini yang kucari
Untuk teman-teman masa kecilku..amat sangat bangga akan pertemanan kita
Waktu gundah datang, kukatakan: "Aku ingin pulang..."
Dan dibawanya kepada kenangan yang selalu meninggal di hati
Ah...bukan itu yang kumau
Belaian angin semilir dan pilu
Ah...bukan juga itu yang kumau
Gelimangan kerlip indah menyilaukan
Ah...bukan itu lagi-lagi yang kumau
Sapuan angin pengisi gundah
Ah...inikah dia yang kucari?
Pencurah dahaga mendentang puncak genting
Ah...masakan ini yang kucari?
Terkenang polos hangat tawa puluhan ribu hari yang lalu
Ah...mungkin.. memang ini yang kucari
Untuk teman-teman masa kecilku..amat sangat bangga akan pertemanan kita
Waktu gundah datang, kukatakan: "Aku ingin pulang..."
Dan dibawanya kepada kenangan yang selalu meninggal di hati
Subscribe to:
Posts (Atom)